PERIBAHASA INDONESIA AYAM

Berikut ini adalah kumpulan contoh peribahasa Indonesia serta arti dan maknanya yang berkaitan dengan kata AYAM

Ayam bertelor di padi.

Gambaran seseorang yang menjalani hidup senang, tidak kekura­ngan suatu apa pun.

Seseorang yang hidupnya senang, segala keinginan dapat dipenuhi.

 

Bagai ayam dibawa ke lampok

Orang yang merasa bingung/panik di tempat asing, seperti orang desa yang dibawa ke kota besar.

 

Seekor ayam tak berkokok, hari tak akan siangkah?

Tidak mengandalkan satu orang saja dalam menyelesaikan masalah, masih ada orang lain yang lebih mampu.

 

Ayam patah kalau-kalau dapat menikam.

Meskipun keadaan sekarang kurang baik lain waktu diharapkan bisa berubah.

Nasib orang tidak ada yang tahu, sekarang bernasib buruk siapa tahu besok berubah baik.

 

Ayam hitam terbang malam.

Suatu masalah yang masih belum dapat diketahui dengan jelas sehingga sulitlah untuk dipecahkan.

Ayam hitam terbang malam, hinggap di rimba dalam, bertali ijuk, bertambang tanduk

Suatu persoalan yang masih belum terbongkar atau belum diketahui oleh umum.

 

 

Ayam putih terbang siang.

Semua permasalahan sudah dapat diketahui dengan nyata dan pe­mecahannya pun dapat dilakukan dengan mudah.

 

Ayam bertanduk, sirih berjanjang.

Melindungi yang lemah agar selamat dari kedzaliman.

 

Ayam putih terbang siang, hinggap di kayu merasi, bertali benang, bertambang tulang.

Gambaran suatu perkara yang sudah jelas, sudah terkumpul bukti, saksi-saksi dan pengakuan orang yang melakukan kesalahan (sudah diketahui banyak orang).

 

Ayam lepas tangan bercirit

Bagaimana pun orang yang melakukan kejahatan pasti akan mendapat malu, karena perbuatannya diketahui orang lain.

 

Seciap bagai anak ayam, sedencit bagai besi.

Seiya sekata, sehingga suka dan duka dirasakan bersama.

 

Bagaikan ayam patuk anaknya.

Hukuman yang tujuannya bukan membalas dendam atau menyiksa namun menyadarkan agar terbebas dari keburukan akhlak.

 

Ayam dapat musang pun dapat.

Melakukan pekerjaan yang teramat sempuma keberhasilannya. Berhasil merangkap dua tugas sekaligus dan dapat diselesaikan de­ngan baik.

 

Bagaikan ayam pulang ke pautan.

Sesuatu yang sudah tepat pada tempatnya.

Sesuatu yang memang seharusnya demikian.

 

Bagaikan ayam mendapat ubi.

Merasa senang mendapat sesuatu yang sejak lama diharapkan.

 

Bagaikan ayam terkena kepala.

Tidak dapat menjawab atau berbuat sesuatu lagi karena kelemah­annya sudah diketahui.

 

Ayam menang kampung tergadai.

Mendapat keuntungan sedikit namun malapetaka yang menimpa lebih besar.

 

Bagaikan musang berbulu ayam.

Seseorang yang menyamar berbuat baik hanya untuk menutupi keburukan atau niat jahatnya.

Gambaran bagi orang munafik yang jika di hadapan bersikap baik, di belakang mencelakakan.

 

Bagai ayam lepas bertaji.

Seseorang yang ditimpa kesusahan dan tiada dapat pertolongan (dibiarkan tetap menderita).

 

Ayam bertelor sebutir ribut seluruh negeri, penyu bertelur beribu-ribu tiada seorang pun tahu.

Perihal orang yang mempunyai kekayaan sedikit sudah sombong, tiada menyadari bahwa orang lain masih lebih kaya.

 

Mendulang ayam indarus rancak kokok.

Menampilkan yang kelihatannya pemberani, namun sebenarnya pe­nakut.

 

Ayam berkokok hari siang.

Sesuatu yang diusahakan sudah ada tanda-tanda keberhasilannya.

 

Bagai ayam mengarang telor.

Gambaran seseorang yang teramat elok parasnya dan pipinya ke­merah-merahan (untuk menggambarkan gadis cantik).

 

Bagai ayam dimakan tungau.

Seseorang yang menderita sakit-sakitan, tiada segar badannya dan tampak kurus, loyo kurang bersemangat.

 

Asal ayam hendak ke lesung, asal itik hendak ke pelimbahan.

Tabiat seseorang sulit untuk diubah menjadi lain.

 

Ayam ditambat disambar elang.

Mengharapkan keuntungan, akhirnya kerugian (kerugian modal) yang didapatkan.

Gambaran bagi seseorang yang mengalami nasib buruk.

 

Bagaikan ayam makan rumput.

Gambaran bagi orang yang mengalami penderitaan hidup dan ke­kurangan rejeki, sehingga susah mendapatkan bahan makanan se­hari-hari.

 

Bagaikan ayam makan rambut.

Seseorang yang melakukan pekerjaan dengan tidak lancar.

 

Ayam yang tangkas di gelanggang.

Gambaran seseorang yang mempunyai kepandaian berbicara di ha­dapan banyak orang (pandai berpidato).

 

Ayam tak patut itik tak sudi.

Gambaran orang yang hina dan tidak berharga lagi tengah-tengah masyarakat.

 

Muncung seperti ekor ayam.

Orang yang tak pernah bisa menjaga mulutnya, selalu ingin berkata apa saja.

 

Ayam bertelor di padi mati kelaparan.

Orang yang selalu merasa kurang meskipun pendapatannya banyak.

Gambaran orang yang sudah kaya tetapi rakus dengan harta.

 

Bagaikan ayam gadis bertelor.

Orang yang menekuni suatu bidang tertentu tetapi tidak pernah kon­tinu (cepat bosan dan berganti-ganti pekerjaan).

 

Bagaikan ayam, kais pagi makan pagi, kais petang makan petang.

Orang miskin yang malas bekerja, tidak mendapatkan makan atau rejeki.

 

 

Ayam itik raja pada tempatnya.

Setiap orang akan berkuasa di daerah atau lingkungannya sendiri.

 

Ayam beroga itu jika dipinggan emas sekalipun diberi makan, ke hutan perginya.

Meskipun di tempat rantau merasa berhasil dan senang, tabiat manusia masih ingin kembali menengok kampung halamannya.

 

Bagaikan ayam pulang ke lesung.

Kembali ke tempat yang dianggap cocok dan digemari.

Seseorang yang telah kembali ke tempat yang didambakan.

 

Belum tentu lagi, ayam sedang bersabung.

Satu jenis pekerjaan yang dilakukan oleh dua orang yang belum jelas hasilnya.